• LOGIN
  • No products in the cart.

Hati-hati! Terlalu Berfokus pada Goal justru Menghambat Anda Meraih Kesuksesan Hidup!

Seperti kebanyakan orang, Anda belum pernah merasakan kesuksesan besar dalam hidup Anda. Hidup Anda datar. Belum ada pencapaian yang bisa membuat Anda bangga terhadap diri Anda sendiri.

Lalu, bagaimana caranya supaya Anda bisa meraih kesuksesan besar dalam hidup Anda?

Berfokuslah pada goal. Yup! Demikian biasanya orang memberikan nasihat.

Tetapi, apa, sih, yang dimaksud dengan goal?

Ketika seorang anak ingin menjadi dokter kelak saat sudah dewasa, maka menjadi dokter merupakan goal-nya. Ketika Anda memiliki keinginan untuk menjadi pengusaha sukses, maka menjadi pengusaha sukses merupakan goal Anda. Ketika anak Anda ingin menjadi juara satu di sekolah, maka menjadi juara satu adalah goal-nya.

Nah, tahukah Anda, terlalu berfokus pada goal yang seperti contoh-contoh di atas bisa berbahaya bagi Anda? Terlalu berfokus pada goal-goal yang seperti itu bisa menjadi bumerang. Ada banyak dampak negatif yang dapat Anda jumpai manakala Anda terlalu berfokus pada goal-goal seperti itu.

Tidak percaya? Penasaran?

Baiklah. Dalam artikel ini, penulis akan menunjukkan kepada Anda bagaimana terlalu berfokus pada goal-goal seperti di atas bisa membawa dampak buruk bagi Anda. Di samping itu, penulis juga akan menujukkan apa yang dapat Anda lakukan untuk memotivasi diri Anda sendiri dalam meraih goal demi kesuksesan hidup selain dengan terlalu berfokus pada goal tersebut.

Jika begitu, yuk, langsung saja kita urai selengkapnya.

Mengapa terlalu Berfokus pada Goal bisa Menghambat Anda Meraih Kesuksesan Hidup?

Ada beberapa alasan mengapa terlalu berfokus pada goal bisa membawa dampak buruk dan menghambat Anda meraih kesuksesan hidup. Berikut ini di antaranya.

1. Kehilangan motivasi

Pernahkah Anda merasa kosong di tengah perjalanan Anda mengejar keinginan/goal Anda? Pernahkah tiba-tiba Anda tersadar Anda kehilangan makna dari apa yang Anda lakukan?

Dulu, penulis sering merasakannya. Mulanya, penulis memiliki keinginan yang menggebu-gebu pada suatu hal. Misalnya saja, penulis memiliki keinginan yang menggebu-gebu untuk bisa sekolah di luar negeri. Segala usaha penulis lakukan untuk meraih keinginan itu, mulai dari belajar bahasa Inggris dengan sangat tekun, mempelajari budaya negara yang menjadi tujuan penulis, rajin update berita tentang beasiswa sekolah di luar negeri, dan mengejar tes TOEFL.

Tetapi, di tengah perjalanan, penulis tiba-tiba tersadar dan bertanya kepada diri sendiri, untuk apa jauh-jauh ke luar negeri? Apa tujuannya? Apa urgensinya? Toh, sekolah di dalam negeri juga tidak kalah berkualitas dibanding sekolah di luar.

Nah, tahukah Anda, terlalu berfokus pada goal bisa membuat Anda kehilangan makna?

Yup, seperti pengalaman penulis di atas, terlalu berfokus pada goal bisa membuat Anda lupa pada makna, membuat Anda lupa pada apa yang MENDORONG Anda untuk meraih goal itu.

Padahal, makna di balik goal jauh lebih penting ketimbang goal itu sendiri. Makna adalah MOTIF yang mendorong Anda meraih goal Anda. Ia adalah ALASAN mengapa Anda merasa perlu mengejar goal itu.

Sementara itu, goal hanyalah salah satu CARA untuk meraih makna tersebut. Ia merupakan MODUS. Jadi, makna adalah MOTIF, sedangkan goal adalah MODUS. Modus dapat bermacam rupa. Anda tidak perlu terpaku pada satu modus. Apabila sebuah modus susah dilakukan, Anda dapat menggunakan modus lainnya untuk meraih motif Anda.

kesuksesan hidup

Tanpa mengetahui makna di balik goal Anda, maka yang terjadi yaitu Anda KEHILANGAN DAYA PENDORONG. Yup! Anda KEHILANGAN MOTIVASI yang mendorong Anda untuk mengejar goal tersebut.

Mengapa Anda kehilangan motivasi?

Karena, Anda merasa apa yang Anda lakukan SIA-SIA.

Bayangkan Anda memiliki niat (goal) untuk pergi ke toko buku. Anda ingin membeli buku-buku terbitan terbaru yang tersedia di toko itu. Tetapi, Anda tidak tahu untuk apa (motif) Anda membeli buku-buku itu. Anda hanya ingin mengoleksinya.

Kira-kira, apakah Anda termotivasi untuk pergi ke toko itu? Atau, apakah Anda pergi dengan ogah-ogahan?

Tentunya, Anda pergi ke toko buku itu dengan ogah-ogahan, bukan? Karena, maknanya tidak jelas.

Ketika penulis tersadar apa gunanya mengejar sekolah di luar negeri, rasanya motivasi penulis lenyap seketika. Penulis merasa apa yang penulis lakukan kosong, tidak memiliki makna apa-apa. Dan, kosongnya makna itu membuat penulis kehilangan semangat dan motivasi untuk mengejar keinginan penulis (sekolah di luar negeri).

2. Frustasi

Sebagaimana penulis jelaskan di atas, goal hanyalah modus alias cara yang dapat Anda tempuh untuk memenuhi tujuan/motif. Karena berperan hanya sebagai cara, goal dapat beraneka macam. Untuk sebuah tujuan/motif, Anda dapat menetapkan berbagai macam goal. Apabila satu goal tidak berhasil Anda raih untuk memenuhi tujuan Anda, Anda dapat menetapkan goal lainnya sebagai alternatif dan mengejarnya.

Contoh, menurut Anda, salah satu cara untuk bahagia yaitu memiliki rumah dan mobil mewah. Anda berpikir, Anda akan bahagia manakala memiliki keduanya. Karena itu, Anda pun lantas berusaha mengejar mobil dan rumah impian Anda. Anda menjadikan keduanya sebagai goal Anda.

Tetapi ternyata, usaha Anda untuk meraih keduanya menjumpai banyak kesukaran hingga akhirnya Anda memutuskan untuk menyerah.

Apabila Anda sadar apa tujuan Anda mengejar kedua hal itu, niscaya Anda terhindar dari frustrasi karena telah gagal mendapatkan kedua hal tersebut. Tetapi, jika Anda lupa dan tidak sadar apa tujuan Anda mengejar keduanya, niscaya Anda terjerumus pada frustrasi karena mendapati diri Anda gagal meraih kedua hal itu.

Nah, terlalu berfokus pada goal membuat Anda lupa pada tujuan/motif Anda mengejar goal tersebut.

Hal itu bisa berbahaya. Mengapa?

kesuksesan hidup

Lupa terhadap motif dalam mengejar sebuah goal membuat Anda berpikir bahwa goal tersebut adalah motif itu sendiri. Anda lupa bahwa goal itu hanyalah salah satu cara untuk memenuhi motif tersebut. Anda menyalahartikan goal sebagai motif.

Akhirnya, menganggap goal sebagai motif, Anda pun mengira Anda telah gagal memenuhi motif Anda manakala Anda gagal mencapai goal Anda. Anda berpikir semuanya telah berakhir, it’s over ketika Anda gagal mencapai goal Anda.

Ilustrasinya, andaikanlah Anda ingin menjadi pengusaha sukses. Anda menganggap hal itu (menjadi pengusaha sukses) sebagai tujuan akhir Anda, sebagai motif Anda.

Kira-kira, apa yang terjadi ketika Anda gagal meraih keinginan itu?

Kemungkinan besar Anda akan kecewa dan bahkan frustrasi. Ini terjadi karena Anda mengira karena kegagalan itu, semuanya telah berakhir, it’s over.

Andaikata Anda meganggap keinginan itu hanya sebagai goal, bukan sebagai motif Anda, maka ketika Anda gagal meraih keinginan itu, Anda akan tetap tenang, sabar, dan optimis. Anda tidak akan menganggap semuanya telah berakhir. Karena, Anda berpikir Anda masih dapat mencapai motif Anda dengan menetapkan goal lainnya sebagai alternatif dalam memenuhi motif tersebut.

3. Depresi

Pernahkah Anda mendengar kisah seorang bintang yang berakhir depresi dan lantas bunuh diri atau merusak diri sendiri dengan mengonsumsi obat-obatan terlarang?

Pernah dan bahkan sering, bukan?

Menurut rumor yang sering beredar, para bintang itu depresi lantaran sudah tidak bersinar layaknya dulu saat pertama kali meraih kesuksesan. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka sudah kehilangan kreativitas sehingga tidak mampu menciptakan karya-karya yang brilian, yang menjadikan sinar mereka meredup.

Tetapi, menurut Dr. Jeff Spencer, konsultan atlet kelas dunia dan konsultan pemimpin perusahaan-perusahaan Fortune 500, penyebab depresi di kalangan bintang tidaklah sesederhana itu.

Nyatanya, banyak juga bintang yang walaupun masih bersinar namun tetap mengidap depresi dan berakhir mengonsumsi obat terlarang atau bahkan bunuh diri.

Jika bukan lantaran sudah tidak bersinar, lantas lantaran apa mereka menderita depresi?

Menurut Dr. Jeff Spencer, penyebab depresi yang menjangkiti para bintang itu tidak lain adalah mereka tidak menemukan makna dari pencapaian yang telah mereka raih.

Yup! Mereka masih bersinar. Prestasi mereka masih gemilang. Jagad raya masih mengelu-elukan mereka sebagai sosok yang luar biasa hebat di bidang yang mereka tekuni. Tetapi toh mereka tetap saja menderita depresi. Penyebabnya yaitu mereka tidak menemukan makna dari apa yang telah mereka raih. Justru mereka bertanya kepada diri mereka sendiri seperti ini: “Semua sudah saya punya. Ketenaran, kekayaan, goal-goal saya, semuanya sudah saya raih. Saya sudah berada di puncak kesuksesan. Lalu, apa selanjutnya?

Pertanyaan “Apa selanjutnya?” inilah yang membuat mereka merasa kehilangan makna. Karena pertanyaan itu, mereka merasa hidup mereka sia-sia, tidak lagi memiliki makna.

Ini terjadi karena mereka terlalu berfokus pada goal hingga lupa pada tujuan/motif yang mendasari goal mereka. Setelah meraih prestasi (goal) yang mereka impikan, mereka merasa hidup mereka sudah penuh, sudah sempurna, sudah tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan.

Tetapi, justru itulah masalahnya!!

kesuksesan hidup

Mendapati hidup mereka sudah penuh, sudah sempurna, dan sudah tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan membuat mereka bertanya, “Untuk apa lagi hidup?

Kalau sudah begitu, maka depresi mudah sekali menjangkiti diri mereka.

Lalu, apa rahasia para bintang yang masih bertahan dalam puncak kesuksesan mereka?

Eksperimen Dr. Spencer menemukan bahwa mereka yang tetap bertahan di puncak kesuksesan mereka, tidak menderita depresi, lebih memfokuskan perhatian mereka pada tujuan alias motif, alih-alih goal mereka. Jika goal mereka adalah menjadi juara di bidang yang mereka tekuni, maka motif yang mendasari goal itu bisa bermacam rupa. Ada yang motifnya untuk memajukan bidang yang mereka tekuni. Setelah mereka berada di puncak kesuksesan, mereka tidak lantas berhenti dan merasa hidup mereka sudah tidak berarti. Sebaliknya, mereka tetap aktif memajukan bidang yang mereka tekuni.

Sementara itu, yang lain memiliki motif menjadi dermawan yang meringankan beban orang yang kekurangan.

Menjadi juara merupakan cara mereka untuk memenuhi motif tersebut. Dengan menjadi juara dan menjadi bintang dalam bidang yang mereka tekuni, penghasilan mereka pun berlimpah. Nah, penghasilan yang berlimpah itu dapat mereka dermakan untuk orang-orang yang membutuhkan. Dengan begitu, setelah mereka berada di puncak kesuksesan, mereka tidak kehilangan makna, tidak merasa hidup mereka sudah tidak bermakna lagi.

Nah, demikianlah beberapa alasan mengapa terlalu berfokus pada goal bisa membawa dampak negatif bagi Anda, menghambat Anda meraih kesuksesan hidup yang Anda impikan.

Sekarang, pertanyaannya, jika terlalu berfokus pada goal justru bisa menghambat Anda meraih kesuksesan hidup, lantas apa yang harus Anda lakukan agar terus termotivasi meraih kesuksesan hidup? Apa yang perlu Anda lakukan agar dapat meraih kesuksesan itu?

Rahasia Meraih Kesuksesan Hidup: Ingat selalu Visi Anda!

Sebagaimana dijelaskan di atas, apa yang lebih penting daripada goal yaitu tujuan alias motif yang mendasari goal itu. Tujuan/motif itu lazim juga disebut VISI.

Untuk meraih kesuksesan hidup, alih-alih terlalu berfokus pada goal, berfokuslah pada visi Anda!

Mengapa visi?

Visi memberikan ALASAN mengapa Anda perlu meraih sebuah goal. Jika goal adalah “What”, maka visi adalah “Why”. Contoh, Anda memiliki goal ingin menjadi pengusaha sukses. Maka, goal itu adalah “What” alias “Apa” yang ingin Anda raih. Sementara itu, visi adalah “Why” alias “Mengapa” Anda ingin meraihnya.

Visi memberikan asupan energi yang besar kepada Anda, menjadikan Anda pantang menyerah dalam mewujudkan visi itu.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, mengejar goal tanpa mengetahui visi di balik goal itu dapat membuat Anda kehilangan makna, membuat Anda merasa usaha Anda sia-sia. Dan, jika sudah begitu, maka Anda pun pasti kehilangan motivasi.

Ilustrasinya seperti yang telah penulis jelaskan sebelumnya: Andaikanlah Anda ingin menjadi pengusaha sukses. Tetapi, Anda tidak tahu untuk apa Anda menjadi pengusaha. Maka, di tengah perjalanan Anda meraih goal itu (menjadi pengusaha sukses), niscaya Anda menemui diri Anda bertanya kepada diri Anda sendiri, “Kalau sudah jadi pengusaha sukses, lantas apa? Apa tujuannya jadi pengusaha sukses?

Pertanyaan itu dapat membuat Anda kehilangan motivasi untuk mengejar goal tersebut.

Di samping itu, hal itu juga bisa membuat Anda frustrasi. Ini terjadi khususnya ketika Anda menganggap goal itu sebagai tujuan akhir Anda, sebagai visi itu sendiri.

Ilustrasinya, andaikanlah Anda ingin menjadi pengusaha sukses. Anda menganggap hal itu (menjadi pengusaha sukses) sebagai tujuan akhir Anda, sebagai visi Anda.

Kira-kira, apa yang terjadi ketika Anda gagal meraih keinginan itu?

Kemungkinan besar Anda akan kecewa dan bahkan frustrasi. Ini terjadi karena Anda mengira karena kegagalan itu, semuanya telah berakhir, it’s over.

Andaikan Anda meganggap keinginan itu hanya sebagai goal, bukan sebagai visi Anda, maka ketika Anda gagal meraih keinginan itu, Anda akan tetap tenang, sabar, dan optimis. Anda tidak akan menganggap semuanya telah berakhir. Karena, Anda berpikir Anda masih dapat mencapai visi Anda dengan menetapkan goal lainnya sebagai alternatif dalam meraih visi tersebut.

Setelah menyimak penjelasan panjang di atas, bagaimana pendapat Anda? Sekarang, Anda paham, bukan mengapa terlalu berfokus pada goal dapat membawa dampak negatif pada diri Anda? Anda paham, bukan, bagaimana terlalu berfokus pada goal justru bisa menghambat Anda meraih kesuksesan hidup?

Untuk itu, untuk meraih kesuksesan hidup, alih-alih terlalu berfokus pada goal, berfokuslah pada visi Anda.

Sekarang, apa visi dalm hidup Anda?

 

Sumber: theartofmanliness.com

October 17, 2018

About OnlineCourse

Kami percaya bahwa sukses membutuhkan proses pembelajaran sepanjang hayat untuk menyejajarkan diri dengan perubahan. Onlinecourse.id adalah anak perusahaan dari Aquarius Learning. Onlinecourse.id menyediakan materi pembelajaran secara online yang bisa Anda akses dari rumah Anda. Anda bisa mempelajari skill yang Anda butuhkan untuk kemajuan kehidupan Anda.

Onlinecourse:

top
Copyright Aquarius Learning - Agus Setiawan
>
X